Case 01
Comics
Matahari mulai meninggi. Dan langit
mulai menunjukkan indah birunya. Semakin biru. Hari itu cerah dan tak ada yang
dapat mengingkari bahwa hujan melarikan diri dari tugasnya. Tiada tanda ia akan
kembali membasahi dunia. Hari itu adalah surga bagi mereka yang membenci hujan.
Dan neraka bagi yang mengharapkannya. Yang manapun sebenarnya adalah nikmat
yang Tuhan beri jika mereka merasa bahwa mereka memiliki keyakinan pada-Nya.
Tepat jam 10 bel istirahat di SMK
INFORMALITAS DEPOK berbunyi. Murid-murid beranjak keluar kelas untuk sekedar
melepaskan lelah daya pikir mereka. Namun di kelas 2 RPL 1 seorang siswa masih
asyik di kursi dan mejanya, menikmati bacaan yang sedang ia tekuni. Siswa itu
bernama Muhammad Helmi, membaca komik Death Note yang baru ia beli kemarin dan
baru ia baca sekarang.
Helmi adalah siswa SMK yang aneh,
ia bertubuh tinggi kurus, bermata cekung, berambut gondrong dan acak-acakan,
serta punya hobi yang aneh. Ia sangat menggemari komik, terutama komik berbau
suspense dan detektif. Baginya komik adalah seni yang bermutu tinggi,
menggabungkan seni visual dan storyline yang unik. Penuh imajinasi dan kadang
ada hikmah tersembunyi yang terkandung didalamnya. Maka itu ia juga gila
menyelidiki kasus yang terjadi di lingkungan sekitar rumahnya. Hobi aneh lain
yang ada pada dirinya ialah merokok sambil melamun. Menurutnya, rokok adalah
alat penemu inspirasi yang cocok untuknya. Meskipun ia tahu bahwa resiko
merokok untuk anak SMA dapat mengakibatkan dirinya diarak keliling sekolah dan
ditelanjangi setengah badan sambil menghormat ke tiang bendera plus di kalungi
tulisan”SAYA TIDAK AKAN MEROKOK LAGI”.
Prakkk!!! Tiba-tiba seseorang tepat
disampingnya, memukulnya dengan buku yang digulung. Orang itu adalah Arman,
teman sekelasnya, dan teman dari kecilnya.
“Nyuk, baca komik melulu, jajan
yuk!!”
“Aduh, ntar dulu, Gue lagi nanggung
abisin bab terakhir dulu” sahut Helmi dengan kesal.
“Hel, gua baik hati nawarin elu
jajan bareng karena elu masih punya utang sama gua ya, jadi biar sekalian. Kalau
gua cuma minta utang doang elo pasti minta nitip, jadi cepetan ikut gua” tukas
Arman sambil mengayun-ayunkan bukunya. Helmi memang terkenal suka menyuruh
orang lain bahkan gurunya untuk dapat menitip sesuatu. Dan Arman adalah korban
yang paling sering digunakan Helmi.
Dalam hati Helmi berkata,” Hmm…
dasar idiot, saatnya jalanin rencana gue…”
“Hmm, gue ya yang punya utang?” kata
Helmi berlagak bodoh.
“Ya iyalah dodol!! Cepet ikut gua” sahut
Arman tak sabar.
“Elo mau gak utang lu gue bayar?”
“Yah pake nanya lagi. Ya iyalah kunyuuukkk!!!”
kali ini Arman menjawab dengan sedikit menahan emosi.
“Gue bayar utang gue ke elo kalo lo
mau gue titipin tempe
dua biji pake sambel. Sekalian es teh manisnya juga di Bang Mamat, kalo nggak
mau ya utang lo nggak jadi gue bayar..” sahut lagi Helmi dengan raut muka yang
serius.
“Tuh kan salah ngomong deh gua
tadi!!! Mana duitnya cepetan!!!” Arman mengakhiri ajakannya dan memilih
mengalah.
Setelah Arman menerima Rp. 2000
sebagai uang untuk beli tempe plus Rp. 5000 sebagai uang piutang dari Helmi, ia
melenggang gontai kearah kantin. Dan Helmi bergumam menang dalam hati.
“Bagus, sesuai perhitungan!!!”
Arman Gunawan, teman dari kecil
Helmi. Ia bertubuh tinggi sedang, berwajah jenaka dan mempunyai ciri khas yang tak dapat dilupakan oleh orang lain
yang menemuinya. Gigi replika dari lahir ala Ronaldinho yang sangat mencolok
dilihat. Atau biasa disebut Tonggos. Dan jika dia bicara, gigi itu mengkilat
akibat pantulan cahaya yang terpantul di giginya sehingga sering membuat silau
mata lawan bicaranya. Tidak seperti Helmi, Arman memiliki hobi yang wajar. Dia hobi
bermain gitar dan sering nge-band bersama teman-teman satu bandnya yang bernama
KUTILANGDARAT. Dia juga vokalis dari band beraliran metal alias melayu total
itu. Sayangnya Arman tak menyadari bahwa suaranya yang mirip onta minta kawin
itulah penyebab utama dari lemparan botol plastik air oleh penonton ketika bandnya manggung di festival musik sekolah.
Arman sampai ke kantin dan menyapa
Bang Mamat dengan gusar.
“Bang, tempe goreng dua pake sambel banyakin gak
pake lama!”
Melihat kedatangan Arman, Wajah
Bang Mamat langsung sumringah “Naaa… kamu dateng juga Man. Abang mo nagih utang
si Helmi. Kemaren kata dia bayarnya dititipin ke kamu”.
“Lah lah… ntar dulu bang, ini gua
lagi di suruh dia buat beli tempe
goreng dua biji sama es tehnya, kalo soal utang dia ama abang dia gak ngomong
apa-apa!!” tangkis Arman dengan rada gusar.
“Alah, udah deh kamu kan temen sekelasnya.
Yang penting bayar dulu ntar kamu kan
tinggal tagih balik ke dia”, Bang Mamat berusaha menego Arman.
Arman tak kuasa untuk menolak. Jika
menolak Bang Mamat takkan lagi memberinya mengutang pisang molen kesukaannya
lagi. Dalam hati Arman bergumam geram, ”Kunyuuukkk!!!! Gua dikerjain dua
kali!!!! Kunyuuuukkkk lo Hellll!!!!”
“Ya udah berapa utangnya?” Arman
pasrah pada nasibnya.
“Rp. 7000 sama tempe dan es yang baru di beli jadi Rp. 9000”
jawab Bang Mamat dengan senyum mengembang merasa menang.
“Anjrit!!! Tekor Rp. 2000 dong
gua!!! Sialan lu Nyuuukkkk!!!!” emosi Arman tak dapat lagi dibendung.
Setelah membayar, sambil
menggenggam es teh dan tempe
goreng yang hampir remuk karena dicengkram dengan kuat, Arman berjalan kearah
kelas 2 RPL A dengan penuh angkara murka. Emosinya tak tertahankan sampai ke
ubun-ubunnya. Sesampainya di kelas ia melihat Helmi yang anehnya malah
tersenyum padanya yang melihatnya dengan pandangan tajam.
Arman berlari kearah Helmi hendak
menamparkan gorengan bersambal yang digenggamnya ke muka Helmi. Namun sesosok
tubuh yang elok menepuk bahunya dari samping sebelum gorengan sampai kemuka
Helmi. Tubuh itu milik Tania, siswi tercantik di sekolah mereka, SMK INFORMALITAS.
Helmi menarik nafas panjang dan
bergumam dalam hati,”Fuuh, Hampir aja muka gua dibedakin sambel”.
“Eeeehhhh… Tania, apa kabar Nia? Kok tumben mampir
kesini?” Arman langsung merubah posisi
tubuhnya dari seorang atlit pelempar lembing menjadi mister bean. Dia memang
punya kebiasaan aneh jika orang yang disukai ada di hadapannya. Tingkahnya
menjadi sok imut dan geraknya menjadi gemulai seperti mr. bean.
“Iya nih, aku ada perlu sama Helmi.
Katanya Helmi jago analisis kasus ya? Aku mau minta tolong dong. Di kompleks
rumahku ada kejadian aneh. Tapi aku nggak bisa cerita sekarang. Soalnya
sekarang aku juga ada urusan sama OSIS. Besok siang kamu bisa nggak kerumahku?”
sahut Tania namun ditujukan pada Helmi
Arman kembali merengut. Gadis
idaman hatinya ternyata bukan bermaksud menemuinya melainkan si Kunyuk. “Alah,
jago analisis apaan? Jago lama pipis mungkin iya!”
“Jangan dengerin dia Nia, dia lagi
sensi sama aku sebab utangku sama dia tinggal sedikit lagi lunas, nggak rela
kayaknya utangku dibayar tapi sedikit-sedikit”, tukas Helmi pada Tania. Helmi
mulai berakting.
Arman melotot. Tania kemudian
bertanya ”Emang berapa hutang kamu sama Arman, Hel?”.
“Rp. 12000 Nia. Walau sedikit
sedikit tapi aku niat bayar kok. Dianya aja yang gak sabaran” sahut Helmi
dengan mengedipkan mata kirinya ke Arman.
Arman makin geram. Kepalan
tangannya seakan keluar cakra kyubi yang terpendam dan bangkit kembali. Penuh
nafsu untuk mendaratkan bogemnya ke wajah Helmi.
“Ya udah, mumpung aku lagi punya
duit nih aku yang ganti hutang kamu sama Arman. Nih Man”, Tania mengulurkan
uang Rp. 12000nya kepada Arman yang tersentak tak percaya bahwa pujaan hatinya rela
berkorban untuk si Kunyuk yang membuatnya menderita hari ini. Kemudian Arman
menampik uang tersebut dengan berkata.
“Gak usah kamu bayarin utang dia Nia,
aku anggap lunas kok, duit segitu mah kecil Nia”.
“Oh ya udah kalo begitu, gimana Hel
bisa nggak?”
“Bisa Nia, untuk kamu apa sih yang
enggak?” jawab Helmi sambil mengedipkan mata kirinya lagi ke Arman yang lagi
kembali melotot garang kearahnya.
“Oke, makasih ya Hel, aku ke ruang
OSIS dulu, sampai ketemu besok” Tania berlalu dengan senyuman mautnya yang
mampu membuat siswa satu sekolah teler dan mabuk akan imajinasi cinta remaja
termasuk Arman kecuali Helmi.
Helmi tersenyum puas. Keberuntungan
berpihak padanya. Tempe
goreng dan es nya masih utuh ditambah lagi hutangnya dianggap lunas. Ia pun
bergumam penuh jumawa meniru ucapan sang tokoh utama dalam komik yang dibacanya,“SESUAI
RENCANAKU!!!”
Dan Arman yang menyesal telah
berurusan dengan si Kunyuk berbisik nanar ketelinganya, “Utang lu gue anggap
bener-bener lunas asal gua boleh ikut besok siang”. Demi harga dirinya pada pujaan
hati ia rela untuk meliburkan jadwal latihan bandnya akibat kekurangan uang
untuk membayar sewa studio.
“Boleh aja.” Jawab Helmi santai sambil
mengunyah tempe
goreng kemudian menyeruput es teh dengan sedotan.
Taktiknya untuk berhemat
pengeluaran berhasil. Sejak kemarin Helmi tahu bahwa Tania berniat untuk
menemuinya. Tania adalah tipikal seorang teman yang tak ragu untuk membantu
teman yang sedang kesulitan. Kemudian merancang strategi menjebak Arman dan
meyakinkan Bang Mamat. Tak perlu simulasi. Sebab dia sudah tahu sifat Arman
yang tolol dan mudah dikelabui. Dan semua sesuai perhitungannya. Cukup cerdas
bukan?
Muhammad Helmi
Dengan
penampilan seperti yang telah disebutkan tadi, tidaklah heran banyak orang yang
tidak menyangka bahwa seorang remaja seperti Helmi adalah seorang maniak analis
kasus. Tipikal pemuda yang tenang, namun terkadang juga bisa sedikit
menyebalkan orang-orang disekitarnya ternyata telah memiliki prestasi
menganalisis kasus dengan jitu. Ia menjadi terkenal setelah berhasil mengungkap
kasus hilangnya sebuah laptop milik tetangganya yang dicuri.
Kisahnya
, 1 tahun yang lalu ketika menjelang imsak di bulan puasa, tetangga Helmi, Mas
Boy namanya, menjerit histeris ketika menyadari bahwa laptop yang baru saja ia
tinggal sekitar 1 menit yang lalu menghilang. Semua warga sekitar serempak
langsung berhamburan keluar rumah untuk mengetahui apa yang terjadi dari asal
jeritan Mas Boy. Setelah diceritakan dengan panjang lebar beserta mimik wajah
memelas Mas Boy si duda keren tetapi kemayu beranak 2 lelaki itu, sebagian
warga kemudian segera menyebar kesegala penjuru lingkungan untuk mencari atau
menemukan si maling yang mungkin masih belum terlalu jauh melarikan diri.
Tetapi
Helmi masih bergeming didepan meja dimana laptop yang dikatakan telah dicuri
itu diletakkan disana sebelum si pencuri membawa laptop tersebut. Pikirannya
fokus, kemudian mengamati sekeliling halaman rumah Mas Boy. Ia beranggapan
sangat wajar apabila si maling dapat dengan mudah mencuri laptop itu dengan
sangat cepat karena jarak antara jalan depan rumah dengan halaman beserta ruang
kecil dimana meja dan laptop itu berada cukup dekat. Ruang kecil beserta pintu
depan itu hanya berjarak 5 meter dari jalan setelah melewati halaman. Kemudian
ia mengamati bagian atas meja, berusaha menemukan sesuatu yang mungkin dapat
dijadikan petunjuk dari si pelaku.
“Sudah
ketemu malingnya?” suara Pak RT menganggetkan semua orang yang sedang mendengar
keterangan dari Mas Boy.
“Belum
Pak RT. Kami masih mendengarkan keterangan dari Mas Boy untuk mencari petunjuk untuk
menemukan si maling Pak” sahut Bang Jamal, tetangga terdekat Mas Boy.
“Wong
Edan!!! Di bulan puasa ini lha kok ada pencurian di RT ini. Percuma saja toh
ronda keliling yang dilaksanakan tadi..” Umpat Pak RT yang bernama asli Sutedjo
atau biasa dipanggil diluar RT Pak Tedjo.
“Berapa
orang yang sedang mencari si maling, Bang Jamal?”
“Tadi
ada si Pak Murdi, Pak Zamrun, Bang Somad, Pak Jalal, Bang Udin, Mas Eko, Si
Budi, Si Arman, Si Gerrard, trus saya lupa yang lainnya Pak, aduh”
“Sopo
iku si Gerat? Saya ndak pernah denger ada warga namanya kayak gitu?” tanya Pak
RT dengan heran karena mendengar nama yang aneh.
“Itu
si Uki Pak, anaknya Pak Sam’un yang pake kacamata itu. Minggu lalu waktu saya
lagi maen catur sama dia, dia minta mulai sekarang dipanggil pake nama itu.
Sampai-sampai minta orangtuanya bikin bubur merah putih buat dibagikan
keseluruh RT untuk selamatan nama barunya Pak” jawab Pak Jamal dengan lengkap
dan lugu.
“Bocah
edan! Sama edannya sama si Maling!” geram Pak RT.
“Mas
Boy, emang Mas tadi kemana waktu ninggalin itu laptop mas?” tanya Helmi yang
mulai mengumpulkan informasi dari Mas Boy.
“Jadi,
tadi itu Mas lagi ngerjain kerjaan mas pakai laptop itu, terus anak mas Si Doni
yang paling kecil itu minta pipis, jadi mas anterin kebelakang sekalian nyebokin
Doni, ngga lama kok Hel, pas Mas balik lagi laptopnya udah ngga ada, Mas cari
ke kamar dan ruang tamu trus tanya ke si Joni yang lagi nonton tv, anak mas
yang pertama itu dia bilang ngga tahu dan ngga liat kedepan, ya Mas jadi panik
dan ngga sadar langsung teriak deh..” jawab Mas Boy.
Pak
RT terheran-heran melihat ada anak ingusan baru gede seperti Helmi bertingkah
layaknya polisi investigasi bertanya tentang kronologis dari pencurian itu.
Sontak sebagai pemimpin di RT itu, Pak RT langsung meremehkan Helmi yang sedang
berusaha mengumpulkan informasi.
“Helem,
memangnya kalau kamu tanya-tanya tentang kejadiannya kamu bisa nemuin si Maling
tho? Sudah, mending kamu bantu temenmu iku si Gerat dan yang lainnya buat
nemuin itu maling, serahkan saja soal tanya-tanya Mas Boy sama bapak..”
“Saya
mau nyari si Maling kalau informasi dan letak pasti keberadaan si Maling sudah
saya temukan dari pertanyaan saya ke Mas Boy Pak RT, kalo begitu jadi lebih
mudah Pak”, jawab Helmi. Sadar bahwa dirinya diremehkan tetapi ia enggan untuk
menuruti Pak RT. Ia beranggapan jika ia sekarang berhenti mengumpulkan
informasi dan ikut mencari keberadaan
si maling yang belum dapat ia pastikan si maling akan sia-sia. Informasinya
belum cukup untuk ia dapat menemukan si maling.
Pak RT melongo
permintaannya dibantah oleh seorang pemuda tanggung. Dengan raut muka kesal
sembari memilin kumisnya yang lebat ia berkata kepada Helmi dengan sedikit
membentak,
“Sontoloyo!!!
Bocah edan. Dibilangine masih tetep ngeyel. Ya sudahlah terserah kamu saja.
Kalo sampe malingnya ndak ketemu setelah kamu puas ngorek-ngorek disini tak
jitak kamu Helem!!!”
“Jangankan bapak
jitak, bapak suruh jogging siang-siang besok juga saya ladenin pak kalo sampe
saya ngga berhasil nemuin malingnya..”, sahut Helmi sembari terus memicingkan
kedua matanya kesana kemari mencari-cari sesuatu.
Pak RT bengong.
Para warga yang lain ikut bengong. Si Joni ompong juga ikut terbengong. Helmi
si pemuda tanggung itu benar-benar berkata serius dengan cara ia membalas
bentakannya. Ia hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah bocah
yang ia anggap sok detektif itu. Akhirnya ia biarkan Helmi melakukan apapun
yang ia suka. Ia terus memberikan perintah-perintah pengejaran kepada para
warga yang lain.
“Ya sudah kita
biarkan saja si Helem detektif ceking dan sok iku. Bapak-bapak sekalian yang
masih disini saya harap segera ikut mengejar si Maling, cari sampe ke
sudut-sudut kampung, ke pasar, atau ke mana saja yang penting sampe ketemu,
kalo perlu sampe ke kampung saya di Tegal. Kita harus temukan maling itu
secepatnya sebelum laptop Si Mas Boy keburu dijual sama si Maling, ya toh? Ayo
semua bergeraaaakkkkk!!!”
“Siapppp Pak
Erteeeee!!!!” sahut warga serempak. Dan mereka pun segera berpencar ke segala
penjuru mencari si Maling.
Sementara itu
Helmi sedang tersenyum-senyum sendiri. Sepertinya ia telah menemukan beberapa
bukti. Cuma masih memerlukan beberapa informasi lagi. Maka ia perlu untuk
bertanya kepada seseorang tentang beberapa hal itu selain dari Mas Boy dan Pak
RT. Hmm tetapi semua warga kecuali mereka berdua sudah pergi mencari keberadaan
si Maling yang membawa laptop. Helmi menghela nafas panjang. Ternyata ia harus
menunggu sampai seorang atau beberapa orang itu kembali ke rumah Mas Boy untuk
di ajak bekerja sama memberikan informasi padanya.
Namun baru sekejap
ia menghela nafas muncullah si Arman dengan pakaian yang kotor belepotan tanah
sambil mengumpat-ngumpat. Sepertinya ia baru saja kecebur sungai atau genangan
lumpur.
“Brengsek! Maling
sialan! Kaos ST 12 yang baru gue beli di stasiun Depok jadi kotor belepotan
gini deh! Gua sumpahin biar ketangkep elu, Monyet!”
Helmi pun segera
menghampiri Arman,”Elu kenapa Man? Koq jadi belepotan gitu? Nyari Maling apa
mau berenang sih lu?”
“Kunyuk! Gue abis
berantem ama si Maling tau! Gua ngeliat dia lagi jalan nenteng-nenteng leptop
di jalanan di pinggir kali deket rumah Pak Madun, makanya gua langsung yakin
dia malingnya. Sialnya gua kaga mikir panjang lagi. Harusnya gua tonjok dulu
dia ampe pingsan. Eh malah gua bekap dia dari belakang. Ya gara-gara badan gua
kalah gede die berhasil ngelemparin gua ke lumpur di deket kali, terus si doi langsung
kabur. Mau gue kejar sakit banget badan gua abis dilempar tu maling Ya udah jadi
beginilah gua Hel. Monyet kapiran tu maling! Sialan”, cerocos Arman kalap.
“Elu berhasil
ngeliat tampangnya kaga Man?”
“Kaga Hel, gelap
banget. Kebetulan Pak Madun nggak nyalain lampu teras rumahnya. Doi kan lagi
mudik. Jadi kagak dinyalain lampunya” terang Arman
“Badan tu orang
gede kagak? Maksud gue pas elu bekap berasa tinggi kekar ya Man?”
“Iye”
“Pas elu bekap
badannya muka lu pasti nyentuh rambut si Maling kan?”
“Hmmm.. Iye bener”
“Sampe dagu elu
kan Man?”
“Hmmm.. Ah! Iye
dah gua inget-inget, kok elu bisa tau sih Nyuk?” Arman mulai ngerasa ada yang
aneh dari pertanyaan-pertanyaan Helmi.
“Ntar dulu Man,
satu lagi pertanyaan gue jawab dulu. Elu kan semalem pasti begadang diluar sama
anak-anak tuh, liat orang-orang yang lagi ronda ngga? Ada siapa aja Man?” Helmi
masih belum puas.
“Emm.. Iya gua emang
lewat pos ronda sih. Ada siapa aja yah? Duh gua lupa Hel!” jawab Arman sambil
menggaruk rambutnya dengan tangannya yang kotor belepotan tanah. Walhasil
rambutnya jadi ikut belepotan juga. Sadar akan hal itu ia kembali
mengumpat,”Sial! Gua lupa tangan gua kotor! Jadi ikut kotor dah rambut gua!
Monyet!”
“Yang ronda ada
yang gondrong ngga rambutnya?” Helmi bertanya lagi.
Ditanya terus
menerus Arman lama-lama menjadi kesal. Ia akhirnya berkata nyolot,”Elu dari
tadi kenapa si Hel nanya terus?! Iya ada yang gondrong! Puas lo! Emang kenapa
kalo ada yang gondrong Nyuk?”
“Elu bakal
berhadapan lagi sama si Maling kalo lu mau ikut gue. Tenang lo gue bantuin kali
ini..” jawab Helmi sembari melangkah masuk kerumah Mas Boy.
Arman langsung
melongo mendengar jawaban penutup dari pertanyaan-pertanyaan Helmi.
“Mas Boy,
bapak-bapak gondrong, badannya kekar, ikut ronda semalam, yang baru pindah
rumah di deket rumah Pak Koko di ujung RT itu siapa namanya ya Mas? Tau nggak?”
Helmi segera bertanya kepada Mas Boy begitu kembali masuk.
“Oh, orang iku
namanya Pak Marco, wong baru pindah ke RT sini sebulan yang lalu. Memangnya
kenapa sama orang itu Helem?” Tetapi malah Pak RT yang menjawab.
“Oh Pak RT tau,
dan kalau boleh saya nanya sama bapak tadi ronda kelilingnya kelar jam berapa
ya Pak?” Helmi cukup terkejut Pak RT yang mau menjawab pertanyaannya. Maka ia
pun merasa bisa bertanya lagi.
“Ndak tahu saya.
Jam setengah tiga saya sama yang lain yang sudah capek dan mau sahur jadi ya saya
tinggal. 4 orang yang lain masih terus main”
“Pak Marco yang
masih terus main, maksud saya dia ada kan?”
“Iyo Helem”
“Sekarang sudah
jelas semua, saya mau kerumah Pak Marco dulu Pak RT, Mas Boy. Laptop Mas
mungkin ada disana”
Pak RT dan Mas Boy
terperanjat atas pernyataan Helmi barusan.
“Serius kamu Hel?”
tanya Mas Boy.
“Kalo ngga percaya
ikut aja sama saya Mas. Pak RT juga ikut donk. Supaya kita punya alesan Pak RT
yang nyuruh kita langsung ngegeledah rumah Pak Marco buat nemuin laptopnya. Saya
yakin tu laptop belom sempet dijual sama dia karena ini masih pagi, belum ada
toko gadget yang buka”, ujar Helmi sembari mengambil sebatang kayu dari halaman
rumah Mas Boy.
“Heh Bocah! Memangnya
kamu sudah punya bukti yang kuat untuk menuduh dia sebagai pencurinya hah?” Pak
RT bingung karena bocah itu benar-benar menuduh seseorang yang belum jelas.
“Bukti-buktinya
biar saya jelaskan sambil jalan, cepet dia pasti lagi siap-siap dirumahnya mau
kabur sambil bawa laptopnya”, pungkas Helmi sembari menyalakan sebatang rokok.
Merekapun segera
bergegas menuju rumah Pak Marco. Pak RT, Mas Boy, Helmi, dan Arman. Di jalan
Helmi kemudian melanjutkan
“Di rumah Mas Boy
saya menemukan bukti yang mengarah kuat kepada Pak Marco. Kenapa? Karena di
sekitar bawah meja tertinggal rambut yang panjangnya lebih daripada rambut Mas
Boy dan kedua anaknya. Dan disitu juga ada bekas abu rokok yang tertinggal
disana, ini aneh karena setahu saya Mas Boy juga nggak ngerokok kan, dari saya
cium bau abu rokoknya juga aneh, itu rokok lintingan yang bukan rokok boleh
beli dari warung-warung yang saya sudah kenal baunya. Saya sempat
ngobrol-ngobrol sama Pak Marco dan setahu saya memang dia suka ngerokok yang di
bawa dari kampungnya di Jawa. Maka dugaan saya makin kuat mengarah ke dia. Apa lagi
setelah saya tanya Arman apakah maling yang ngelempar dia itu badannya tinggi
kekar dan rambut belakangnya sampai menyentuh dagunya? Dan Arman ngejawab
persis seperti yang saya pikirkan maka sudah jelas. Dia lah pelakunya Pak RT”
“Heh. Tapi belum
jelas betul kan buktinya. Bisa saja bukan dia Helem, Cuma orang lain yang punya
ciri-ciri mirip dia ya tho?” tangkis Pak RT.
“Hem, mungkin saja
Pak RT. Tapi lihat tuh Pak Marco keluar lewat belakang sambil nenteng
laptopnya, teriakin Pak RT, Mas Boy, Man, Maliiiiiiiinnnngggggg!!!”, tutup
Helmi sambil meneriaki Pak Marco.
Kemudian terjadi
kejar-kejaran antara para warga dengan Pak Marco. Akhirnya Pak Marco berhasil
ditangkap setelah warga yang lain dari segala penjuru ikut membantu mengejar.
Ia pun mengakui bahwa ia memang telah mengincar rumah Mas Boy sejak ronda
semalam dan sengaja mengawasi Mas Boy dari balik tembok pagar rumahnya dan
mengambil kesempatan ketika Mas Boy lengah. Dan ia hampir berhasil membawa
laptopnya sebelum ia kena tangkap berkat penyelidikan Helmi yang cukup tepat.
“Heh, untuk kali
ini bapak akui kamu hebat Hel bisa dengan tepat menduga kalo Malingnya itu Pak
Marco, tapi bapak pikir bisa saja salah. Bisa saja yang mirip orang lain kan?”
Pak RT rupanya masih kurang puas dengan penyelidikan Helmi.
“Memang Pak bisa
saja orang lain, saya juga memikirkan seperti itu. Tapi setelah bapak bilang
kalo yang ngeronda itu pulangnya sampe mungkin sebelum imsak maka saya jadi
yakin kalo si rambut gondrong dan badan kekar yang ngeronda itu yaitu pak Marco
itulah pelakunya. Jalan dari Pos ronda untuk pulang kerumah Pak Marco pasti
lewat rumah Mas Boy. Jadi sudah jelas dia 90% jadi tersangka. Sudah ah pak,
saya mau lanjut tidur dirumah, kalo mau ngasih imbalan atas kerja saya ini ya
beliin saya rokok Marlboro yang merah sebungkus, trus titipin sama Babeh saya
ya Pak. Kalo ngga mau kasih imbalan ya nggak papa juga, karena ini sich kasus
kecil sebenarnya. Anak TK juga bisa nebak siapa pencurinya” tukas Helmi
ngeloyor pulang.
“Cah Edan!!! Sontoloyo!!!
Tak kasih racun tikus aja sampeyan!!!”, Pak RT ngamuk-ngamuk mendengar omongan
Helmi.
Tetapi para warga yang lain sepakat untuk memberikan sedikit imbalan
kepada Helmi berupa rokok Marlboro yang ia suka itu sebungkus hasil dari
patungan warga. Tak lupa Mas Boy juga ikut memberikan Rokok itu sebungkus juga.
Maka siang hari ketika bangun Helmi tak kuasa melihat 2 bungkus rokok Marlboro
sudah menunggu di atas meja belajarnya. Sayangnya ia berpuasa. Maka ia hanya
bisa menunggu sampai bedug maghrib tiba untuk segera menikmati rokok favoritnya
itu. Selama itu ia harus terus mengelap air liurnya yang terus membasahi bibirnya karena tak tahan dengan ingin segera mengisap rokok itu. Hahahaha.. Ada-Ada saja.
